Dari pengalamannya bertahun-tahun menggeluti bisnis piranti lunak, Fadel Fuad Basmalleh, (37), melihat adanya peluang besar yang masih bisa digarap oleh para pelaku usaha piranti lunak lokal. Selain itu, ada banyak hal yang harus diperhatikan agar bisa sukses di bisnis ini.
Jika Anda ingin berbisnis piranti lunak (software), tidak ada salahnya menapaki jejak Bill Gates, pemilik Microsoft Corporation, perusahaan piranti lunak asal Amerika Serikat. Berkat kesuksesannya di bidang itu, Bill Gates sempat dinobatkan sebagai orang terkaya di dunia. Jumlah kekayaannya hingga melampaui PDB (Produk Domestik Bruto) beberapa negara di kawasan Asia. Seperti Azerbaijan, Nepal, Kamboja, Laos dan beberapa negara lain dengan PDB di bawah US$59,2 miliar.
Namun jika hal itu dirasa tidak memungkinkan, ada baiknya Anda belajar dari pengusaha lokal. Sebut saja Fadel Fuad Basmalleh, (37), pemilik PT. Zahir Internasional, (Zahir Accounting). Perusahaan ini bergerak di bidang pengembangan dan penjualan software akutansi untuk perusahaan skala UKM. Software buatan Zahir ini dirancang untuk penyajian laporan keuangan
yang mudah, cepat, akurat, dan jelas. Lebih dari itu, data yang diprosesnya disajikan berbentuk rasio dan angka-angka real time. Sehingga di saat-saat tertentu bisa menunjang proses pengambilan keputusan.
Anda tidak perlu khawatir dengan reputasi perusahaan itu. Meski Zahir Accounting tidak sebanding dengan perusahaan raksasa sekelas Microsoft, untuk perusahaan software skala lokal, keberadaannya cukup diperhitungkan. Di bawah kendali Fadel, perusahaan itu berkali-kali meraih penghargaan software terbaik tingkat nasional maupun internasional. Misalnya, penghargaan Merit Award APICTA (Asia Pacific ICT Award)-Indonesia untuk software bisnis terbaik tahun 2002 dan Winner APICTA-Indonesia untuk software bisnis finansial terbaik tahun 2003. Dan di antaranya sempat mendapat penghargaan Indonesia ICT Award dari Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2003.
Lebih lagi, berbagai perusahan telah menggunakan software buatannya. Hingga kini, klien perusahaan itu telah mencapai angka 8000-an. Meski Fadel tidak bersedia menyebutkan omzet perusahaannya, menurut data yang kami peroleh dari berbagai media, Zahir Accounting bisa mengantongi omzet hingga miliaran rupiah per tahunnya.
Modal Bukan Halangan
Saat memulai bisnisnya, Fadel tidak “bermodalkan” apa-apa. Hanya memiliki tekad untuk bisa survive dari kebangkrutan bisnis yang dikelola sebelumnya. Sebab, jauh sebelum Zahir Accounting berdiri, Fadel sempat menekuni bidang desain, lay out dan periklanan. Bisnis itu dijalaninya sejak tahun 1992. Hingga akhirnya berkembang menjadi perusahaan percetakan bernama Kre-ta Visual Komunika. Namun di tahun 1997 perusahaan itu hancur akibat terimbas krisis. Dan yang memprihatinkan, Fadel terjerat utang hingga Rp600 juta. “Waktu itu tidak ada uang untuk melunasinya. Apalagi untuk membangun usaha, tapi saya memiliki tekad kuat untuk mengatasi masalah ini,” tegas pria kelahiran Surabaya tahun 1971 itu.
Di tengah kondisi itulah, Fadel mulai melirik bisnis software di bidang akutansi. Meski masih terseok-seok akibat krisis, pada Agustus 1997, di daerah Pejuang Pelajar Badung, ia mulai membuat software pertamanya. “Awalnya hanya tahu dasardasarnya saja. Saya tidak begitu mendalami aplikasi pemrograman, begitu juga ilmu akutansi. Tapi sejak itulah mulai serius
mendalaminya,” tutur Fadel di sela-sela wawancaranya dengan Duit!.
Seluruh proses produksi dan pemasaran dikerjakan sendiri. Untuk produksi, ia menggunakan PC (personal computer) berikut aplikasi pemrograman, Visual Basic dan Sim Plus-Plus. Dan yang terakhir menggunakan produk Delphi sebagai aplikasi penungjangnya. Sedangkan untuk pemasaran, Fadel tak segan-segan manfaatkan seluruh media yang ada. Dari promosi langsung hingga menjajaki seluruh pasilitas promosi di dunia maya. Menurut Fadel, itulah kondisi yang menyertai perjalanan Zahir Accounting di masa-masa awal berdirinya.
Dari penuturannya, modal (uang) bukanlah halangan untuk bisa memulai bisnis ini. Sebab, cukup menggunakan komputer berikut aplikasi pemrograman. Hanya saja, kondisi mental harus benar-benar disiapkan. Prosesnya akan sangat menguras energi. Apalagi bagi orang-orang yang belum mengenal aplikasi pemrograman itu. Selain harus belejar aplikasi, mereka pun dituntut menguasai bidang yang ingin dijadikan spesipikasi software-nya.
Tapi lain halnya jika tersedia dana yang memadai. Kini SDM di bidang TI (teknologi informasi) sudah cukup banyak. Begitu juga bidang yang lainnya. Tinggallah mencari SDM yang berkompeten di bidangnnya masing-masing. “Kondisi ini bisa mempermudah tahap awalnya. Kalau belum memiliki modal, coba bekerja dahulu di tempat lain. Kalau modal sudah ada, Anda bisa mulai mencobanya,” jelas pria yang tidak sampai mrampungkan studi strata satunya di Fakultas Teknik Fisika ITB Bandung.
Harus Inovatif dan Fokus
Fadel mengaku, membangun bisnis software tidaklah mudah. Apalgi produk-produk TI lokal masih diragukan. Untuk penggunaan software, main set-nya masih ke Baratbaratan. Dan inilah tantangan terbesar yang pernah dialaminya. Ia harus bekerja ekstra agar software buatannya segera diterima. “Cukup berat saat dihadapkan dengan produk-produk luar. Tapi untuk beberapa hal, kita memiliki banyak keuntungan, terutama untuk penerapan bahasa pengantar dan desain bentuknya. Software luar, biasanya berbahasa Inggris dan cara penggunaannya rumit,” jelas Fadel.
Itulah sebabnya, Fadel memilih desain yang simple. Agar orang yang tidak mengerti ilmu akutansi sekalipun bisa langsung menggunakannya. Dan yang menarik, software itu dibuat dengan pengantar bahasa Indonesia. “Awalnya mereka ragu. Tapi setelah mencobanya, malah merekomendasikan produk Zahir ini ke orang lainnya,” papar Fadel.
Menurutnya, kendala lain yang tengah dihadapi industri software lokal, akibat tidak ada kepastian yang bisa diterima penggunanya. “Untuk mendapatkan sofware, tentu saja, mereka harus membelinya dengan harga mahal. Sedangkan kondisi umum perusahaan software lokal, tidak bisa meyakinkan penggunanya, bahwa perusahaan itu akan selalu tetap ada selama ia
menggunakan produk itu. Karena bisa saja, setelah beberapa saat digunakan, softwarenya rusak. Jika perusahaan penjualnya tutup, bagaimana kondisi mereka?” tegas Fadel. Jadi, selain dituntut inovatif, kondisi perusahaan harus benar-benar dijaga. Selain itu profesionalisme harus benar-benar di perhatikan. “Jangan asal terima pesanan, apalagi di luar spesifikasi produk kita. Arahkan saja ke perusahaan lain yang membidanginya. Cara ini baik untuk menjaga citra perusahaan. Kalau asal terima mereka bisa ragu dengan kompetensi kita,” papar Fadel.
Dari pengalamannya menjalani usaha di bidang ini, menurutnya, ada satu hal yang sering tidak diperhatikan para pelaku usaha software lokal yang bisa berakibat fatal. “Para pemain software lokal, biasanya, terlalu menonjolkan teknologinya, padahal, calon penggunanya tidak peduli dengan teknologi apapun yang ingin mereka gunakan. Yang penting masalah mereka bisa teratasi atau tidak?” pesannya.
Dan mengenai hubungan dengan konsumen, Fadel menegaskan, jika memilih bisnis ini, hubungan baik dengan konsumen harus benar-benar dipelihara, sebab dari kedekatan itulah, kita bisa mendapatkan banyak informasi berharga mengenai kondisi produk kita. Selain itu, para pengguna software cenderung memilih produk yang direkomendasikan orang-orang terdekatnya dibanding melalui iklan atau informasi lainnya. Jadi, semakin banyak orang yang merekaomendasikan produk Anda, semakin besar pula keuntungan yang bisa didapatkan.
Pangsa Pasar
Dalam pandangan Fadel, industri software lokal masih belum tergarap sepenuhnya. Padahal pangsa pasarnya luas dan segmen yang bisa dijajaki cukup beragam. Bisa untuk sarana penunjang kegiatan industri, pemerintahan, pendidikan, pelatihan dan masih banyak lagi yang lainnya. Apalagi trand di masyarakat kita, ada kecenderungan ke arah penggunaan sistem berbasis Teknologi Informasi (TI).
Sebenarnya, bisnis ini terbilang unik. Sebab, yang mengembangkan branded software di Tanah Air tidak terlalu banyak. Padahal menurut Fadel, keberadaannya sangat dibutuhkan, sebab software-lah yang mendukung kemudahan penggunaan TI. Selain itu, peluangnya akan bertambah besar lagi. Sebab berbagai perangkat teknologi makin murah dan makin mudah untuk digunakan. “Tarif internet makin murah dan mudah didapatkan. Lebih lagi, harga PC dan laptop makin hari makin terjangkau,” jelas Fadel.
Bagi Fadel, bisnis ini sedang menunggu generasi berikutnya untuk segera bangkit. “Yang menjadi market besar dan potensial, ada di 5 hingga 10 tahun ke depan. Dan akan dipelopori generasi muda saat ini. Mereka sangar aware dibandingkan dengan generasi di atas 40 tahun yang relatif lebih sulit beradaptasi dengan teknologi baru,” kata Fadel. (Ruby Babullah Afsa, Majalah DUIT No. 05/Mei 2010))





