Majalah Duit

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Franchise Makanan dan Minuman Makanan dan Minuman Makanan Wong Cilik Bisa Jadi Ngetren

Makanan Wong Cilik Bisa Jadi Ngetren

E-mail Cetak PDF
Banyak orang ragu mengangkat gado-gado ke level bisnis yang lebih bergengsi, karena takut rugi. Tapi, lain halnya dengan ibu Juliana Hartono (64 tahun) malah berani membangun restoran mewah untuk jualan gado-gado. Rupanya, bisnis itu sukses hingga beranak pinak menjadi 10 restoran gado-gado dengan nilai aset miliaran rupiah.



Apa jadinya bila gado-gado jadi menu utama di restoran? Wah, pasti membingungkan. Sebab, makanan dari berbaga  jenis sayuran dan saus kacang itu identik dengan wong cilik yang biasa dijual di ganggang sempit atau di sekitar emperan jalan. Tapi jangan kaget, sebab, ada juga orang yang berani mengangkatnya hingga ke level itu. Lihat saja ibu Juliana Hartono, (64), yang berani membangun restoran penjual gadogado. Lebih lagi, restoran gado-gadonya didesain artistik, dengan bentuk dan tata ruang bergaya modern. Tak ayal, bila restorannya terlihat sejajar dengan berbagai restoran berkelas internasional.

Bagi penggemar gado-gado di wilayah Jakarta dan sekitarnya, pasti tahu Gado-Gado Boplo. Nah, itulah restoran gado-gado yang didirikan ibu Juliana. Restoran gado-gado itu menggarap pasarnya yang ada di level menengah dan papan atas. Jadi, maklum saja, bila fasilitasnya di atas rata-rata. Sebut saja suasananya. Setiap orang yang datang ke tempat itu, pasti mendapati suasana nyaman dan menyenangkan. Udaranya sejuk, ruangannya indah dan layanannya ramah. Lebih lagi, disuguhi pertunjukan musik (live musik) dari berbagai jenis aliran, dari musik klasik hingga aliran pop masa kini. Iramanya terus mengalun memanjakan setiap orang yang tengah menikmati kelezatan gado-gadonya.

Restoran gado-gado itu tak sekedar manyajikan gado-gado. Ada juga berbagai jenis makanan tradisional lainnya, yang bisa dijadikan menu alternatif mengatasi kebosanan. Jadi, bisa juga menjajaki berbagai jenis makanan warisan leluhurnya. Ada nasi timbel, nasi uduk, sop buntut, soto ayam, nasi rawon, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Menurut Calvin Hartono, (41), pengelola, sekaligus putra ibu Juliana Hartono, ibundanya tak main-main dengan pengelolaan bisnis restoran gado-gado ini. Segala sesuatunya benar-benar diperhatikan. Dari fasilitas tempat usaha, kualitas makanan, hingga pemenuhan kebutuhan gaya hidup para pelanggnnya. Ia berharap, agar makanan khas Betawi ini bisa dinikmati semua orang, terutama bagi mereka yang berada di level menengah ke atas, yang selama ini tidak terfasilitasi. “Saat mereka membeli gado-gado, mereka bisa menikmatinya dalam suasana nyaman. Mereka tidak harus sambil berkeringat atau berdesak-desakan seperti di kedai gado-gado lainnya,” jelas Calvin saat mewakili wawancara ibundanya dengan Duit!.

Selaku pengelola restoran, Calvin merasa optimis dengan bisnis itu. Bagi dirinya, makanan tradisional khas Betawi ini, memiliki prospek besar bila dipasarkan di level yang lebih tinggi. “Sebenarnya makanan itu disukai semua orang. Yang membuatnya identik dengan kalangan menengah ke bawah, akibat kondisinya saja. Selama ini, orang yang ingin membeli gado-gado harus sambil berdesak-desakan, berpanas-panasan, dan sambil bercucuran keringat. Itulah sebabnya mereka (kalangan menegah ke atas. Red) malas membeli gado-gado, karena tidak terbiasa dengan suasana itu,” tutur Calvin.

Mengenai keberanian ibundanya membangun restoran gado-gado ini, Calvin percaya dengan kemampuannya, karena ibu Juliana dianggapnya memiliki banyak pengalaman di bidang ini. “Mami ku sudah 39 tahun jualan gado-gado. Pastinya, sangat berpengalaman. Dia tahu karakter pasarnya, begitu juga dengan prospek bisnis ini. Itu juga sebabnya dia berani bikin restoran gado-gado,” jelas Calvin saat ingin menuturkan pengalaman ibundanya. Calvin menambahkan, adanya Gado-Gado Boplo, tidak lepas dari kerja keras ibundanya. “Dia pekerja keras dan pandai membaca peluang. Soalnya Gado-Gado Boplo ini benar-benar dimulai dari nol, dan sekarang sudah punya banyak cabang, dan kondisinya terus berkembang pesat,” kenang Calvin.

Dari Garasi Rumah

Bisnis gado-gadonya, memang, tidak besar begitu saja. Sebab, jauh sebelum restoran Gado-Gado Boplo itu ada, ibu Juliana hanyalah penjual gado-gado biasa, sekedar dilengkapi meja dan peralatan alakadarnya. Ia mulai berjualan gado-gado pada tahun 1971, dengan menumpang di garasi rumah milik kerabatnya, di bilangan Kebon Sirih Jakarta Pusat. Modal pertamanya hanya Rp500, digunakan untuk membeli peralatan, berikut bahan baku gado-gado pertamanya.

Saat pertama kali memulai usaha ini, tidak terlintas di benak ibu Juliana untuk menjadikannya bisnis besar seperti yang dijalaninya saat ini, tapi sekedar membantu perekonomian keluarganya saja. Apalagi kondisinya masih sangat sederhana. Masih membutuhkan biaya tambahan untuk pendidikan kedua anaka tercintanya, Calvin dan Vera. “Mamiku hanya ingin menambah penghasilan, sekaligus menyalurkan hobi masaknya. Kebetulan ia mahir meracik bumbu. Waktu itu, mami menambahkan kacang mede untuk bahan baku saus kacangnya. Rupanya, berkat ramuan itu, banyak yang suka rasa gadogadonya, dan itu juga yang membuat Gado-Gado Boplo berbeda dengan gado-gado lainnya,” tutur pria lulusan Ekonomi Manajemen Universitas Pancasila ini.

Sejak saat itulah, gado-gado buatan ibu Juliana mulai dikenal di lingkungan tetangga. Kabar kelezatannya hingga tersebar ke manamana. Setiap hari ibu Juliana harus melayani pelanggan yang kian hari makin membeludak. “Orang yang ingin membeli gado-gado harus mengantri lama. Kadang gerasi yang ditempatinya, penuh dengan calon pembelinya,” tambah Calvin kepada DUIT!.

Menurut penuturannya, tempat usaha gadogado ibu Juliana sempat berpindah-pindah, hingga di tahun 1990-an, mulai menetap di Jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat. Ibu Juliana menempati kedai yang bersebrangan dengan apotek Boplo. “Itulah sebabnya gado-gado ini disebut Gado-Gado Boplo, karena tempat jualannya berhadapan langsung dengan apotek Boplo,” jelas Calvin.

Di sinilah awal kejayaannya. Gado-Gado Boplo hingga dikenal di seantero Jakarta dan sekitarnya. Orang-orang dari berbagai latar belakang, terus berdatangan sekedar menikmati kelazatan gado-gado buatannya. Dari kalangan masyarakat kecil, hingga sejumlah artis, pengusaha, dan pejabat negara. Hingga akhirnya, banyak tawaran untuk bergabung di pujasera, food court, di sejumlah perkantoran dan Supermarket di sekitar Jakarta.

Tawaran Investor

“Ketika beroperasi di sekitar jalan Wahid Hasyim Jakarta Pusat, Meski pun ada perubahan, tapi belum terlalu signifikan,” jelas Calvin. Kondisinya masih berbentuk ruko pinggiran jalan. Perubahan ke konsep itu baru dimulai pada tahun 2004, sejak mendapat tawaran modal dari investor. Ibu Juliana diminta meneruskan usaha restoran yang nyaris tutup di sekitar jalan Barito Jakarta Selatan. Saat itulah ibu Juliana memberanikan diri mengangkat usahanya ke level itu. Tanpa buangbuang waktu, langsung diterima, dan restoran gado-gado itupun langsung dirikannya.

Inilah momentum Gado-Gado Boplo bertansformasi menjadi restoran dengan tempat dan pasilitas yang representatif. Tak lama berselang, restoran gado-gadonya langsung mendapat respon positif dari pasarnya. Hingga kini terus berkembang pesat, beranak pinak menjadi 10 restoran dan 4 lainnya berbentuk stand food court, dan nilai aset keseluruhannya hingga mencapai miliaran rupiah. Seluruhnya tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ada yang beroperasi di mal, gedung pencakar langi,
hotel berbintang, atau di beberapa tempatbergengsi lainnya.

Dari prestasi itulah, Gado-Gado Boplo akhirnya bisa meraih keuntungan besar. Seluruh restoran Gado-Gado Boplo yang dikelolanya, rata-rata bisa dikunjungi 700-1000 orang per harinya. Lebih dari itu, sejumlah penghargaan turut mereka dapatkan. Di antaranya, Best Seller 2004 dari sebuah majalah bisnis dan lembaga pemerintahan. Selain itu, di tahun 2006 mendapat penghargaan Indonesian Creative and Innovative Award dari gubernur DKI Jakarta, bapak Sutioso, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mengenai strategi pengembangan usahanya, Calvin mengaku, masih ingin berkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya saja. Menurut Calvin, sejauh ini sudah ada banyak tawaran dari daerah-daerah lain, namun dengan berbagai pertimbangan, ia belum berani, kecuali investornya bersedia mengikuti pola pengembangan yang selama ini telah berjalan, yakni pola kemitraan ala Boplo, di mana investor yang masuk hanya menanamkan modalnya saja, sementara seluruh pengelolaannya ditangani pihak Boplo. “Jadi dia (investor.red) sebagai pemegang saham pasif, tinggal menikmati keuntungannya saja, tidak perlu turun. Itulah yang selama ini berjalan, dan terbukti bisa berjalan dengan baik,” papar Calvin. Sedangkan untuk sistem franchise yang belakangan banyak diterapkan sejumlah pengelola restoran, Calvin mengaku belum berani. “Kami tahu kemampuan sendiri karenanya belum berani untuk franchise. Buat apa dipaksakan, kalau nanti image Boplo malah hancur,” ujar Calvin di akhir wawancaranya dengan DUIT!. (Ruby Babullah Afsa, Majalah DUIT No. 05/IV/Mei 2009).
 
Comments (1)
1 Selasa, 12 Januari 2010 18:51
likke chandra
sy kagum dgn keberanian ibu juli, sy jd terinspirasi utk berani bertindak....

Add your comment

Your name:
Your email:
Comment:
Iklan Horizontal